Badminton FOMO – Tim bulutangkis Indonesia akan memulai
musim 2024 dengan harapan baru, setelah mengalami pasang surut sepanjang musim
lalu.
Malaysia Open 2024 akan menandai perjalanan para pebulutangkis Indonesia musim ini. Ajang ini akan diselenggarakan di Axiata Arena, Kuala Lumpur pada 9 – 14 Januari mendatang.
Tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie,
tunggal putri Gregoria Mariska dan ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian
Ardianto dipastikan ambil bagian di ajang ini.
Turnamen ini bisa dibilang menjadi pijakan pertama bagi
badminton Indonesia setelah gagal bersinar di turnamen bergengsi tingkat dunia
musim lalu.
Ya. Musim 2023 menjadi tahun berderingnya alarm serius untuk
tim bulutangkis Indonesia. Ini berkaitan dengan performa dan torehan hasil dari
turnamen-turnamen internasional.
Di turnamen BWF World Tour, misalnya, Indonesia hanya mampu
meraih 13 gelar juara mulai dari level Super 300 hingga 1000.
Catatan ini tertinggal jauh dari tiga negara Asia Timur yang
memiliki pemain berkualitas, yakni China (47 gelar), Korea Selatan (25 gelar),
dan Jepang (20 gelar).
Gagal Total di Asian
Games
Hasil buruk paling mencolok adalah kegagalan tim bulutangkis
Indonesia di Asian Games Hangzhou pada September - Oktober lalu.
Tim Merah Putih tidak bisa meraih satupun medali yang
diperebutkan baik di sektor beregu maupun perorangan.
Ini menjadi catatan terburuk sepanjang sejarah keikutsertaan
bulutangkis Indonesia di Asian Games.
Pasalnya, Indonesia tidak pernah absen meraih medali sejak
pertama kali cabang olahraga tepok bulu dipertandingkan.
Puasa Gelar 34 Tahun
di Piala Sudirman
Jauh sebelum catatan merah tersebut, tim beregu campuran
juga gagal menembus babak semifinal turnamen Piala Sudirman 2023.
Di babak perempat final, Indonesia yang bertemu tuan rumah
China, dipaksa bertekuk lutut dengan skor telak 0-3. Tiga laga awal tidak mampu
dimenangkan wakil Indonesia.
Hasil ini memperpanjang puasa gelar Indonesia selama 34
tahun di ajang supremasi beregu campuran, sejak pertama dan terakhir juara
dimenangkan pada 1989.
Sekedar informasi, Indonesia terakhir kali melaju ke babak
final pada tahun 2007. Tentu saja ini menjadi sebuah memori yang sulit
terulang.
Ganda Campuran Minim
Gelar Juara
Mirisnya, dari lima sektor bulutangkis, ganda campuran
mengalami kemerosotan paling tajam sepanjang musim lalu.
Di level Super 300 keatas, hanya ada satu pasangan yang
berhasil meraih gelar juara, itupun dating dari wakil non pelatnas yakni Dejan
Ferdinansyah/Gloria Emanuelle Widjaja.
Diketahui, Dejan/Gloria yang berada di bawah naungan PB
Djarum itu mampu memenangkan gelar juara Syed Modi India International Super
300.
Ada pun ganda campuran pelatnas hanya bersinar di kancah SEA
Games 2023 Kamboja. Kala itu, Rehan Naufal Kusharjanto/Lisa Ayu Kusumawati
meraih medali emas.
SEA Games Jadi
Penyelamat Muka Indonesia
Terlepas dari catatan tersebut, prestasi di SEA Games
Kamboja selamatkan wajah bulutangkis Indonesia karena mampu memborong 11
medali.
Di antaranya lima medali emas yang disumbang tim beregu
putra, tunggal putra Christian Adinata, ganda putra Pramudya
Kusumawardana/Yeremia Rambitan, ganda putri Febriana Dwipuji Kusuma/Amalia
Cahaya Pratiwi dan ganda campuran Rehan/Lisa.
Selain itu, medali perak dipersembahkan tiga wakil yakni
tunggal putra Chico Aura Dwi Wardoyo, ganda putri Meilysa Trias
Puspitasari/Rachel Rose, dan tim beregu putri.
Serta medali perunggu oleh tunggal putri Komang Ayu Cahya
Dewi dan Ester Nurumi Tri Wardoyo dan ganda putra Bagas Maulana/Muhammad
Shohibul Fikri.
Bisakah Indonesia
Bangkit Musim Ini?
Lampu kuning bulutangkis Indonesia tersebut tentu saja
menjadi sebuah tantangan bagi PBSI, tidak hanya dalam meningkatkan prestasi
para atlet musim ini.
Pasalnya musim 2024 akan diramaikan dengan sejumlah agenda
bergengsi yang berpeluang mengembalikan marwah bulutangkis Indonesia di kancah
internasional.
Salah satu agenda penting musim ini adalah pesta olahraga
terbesar di dunia yakni Olimpiade Paris 2024 yang akan diselenggarakan
Juli-Agustus mendatang.
Indonesia tentunya dituntut untuk menjaga tradisi media emas
pada Olimpiade Paris, menghapus luka kegagalan di Asian Games kemarin.
Indonesia tak pernah absen meraih medali. Total sudah 32
medali yang dikumpulkan Indonesia di Olimpiade, rinciannya, 8 emas, 13 perak,
dan 13 perunggu.
Peluang meraih medali emas di Paris tentu saja terbuka
lebar, namun ancaman dari negara lain juga patut diperhitungkan. Apalagi
persaingan di cabang olahraga ini semakin ketat.
Selain itu juga ada Piala Thomas dan Uber yang menjadi major
event lainnya yang akan dihadapi Indonesia. Ajang ini akan digelar sebelum
Olimpiade.
Indonesia terakhir kali menjuarai Piala Thomas di tahun
2020, sedangkan Piala Uber terakhir kali dimenangkan pada tahun 1996.
Maka dari itu, patut untuk dinantikan apakah bulutangkis
Indonesia mampu menemukan titik terangnya musim ini atau justru semakin
terpuruk?

No comments:
Post a Comment